Cashless Society: Untung atau Bikin Boros?
Salam, komentar, request..
Cashless Society: Untung atau Bikin Boros?
Article on radioguntur.com a Radio Online Bali and one fine Radio Online Indonesia.
Di era serba digital seperti sekarang, membawa dompet tebal berisi uang tunai rasanya sudah mulai ditinggalkan. Cukup modal ponsel dan koneksi internet, kita bisa bayar apa saja mulai dari kopi, makanan, ongkos transportasi, sampai belanja bulanan. Inilah yang disebut dengan cashless society, sebuah gaya hidup tanpa uang tunai yang makin populer, terutama di kalangan anak muda.
E-wallet, QRIS, kartu debit, hingga fitur pay later kini jadi bagian dari keseharian. Tinggal scan, klik, selesai. Praktis, cepat, dan terlihat modern. Tapi, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan besar: apakah cashless benar-benar menguntungkan, atau justru bikin kita makin boros tanpa sadar?
Sisi Positif Cashless Society
Kalau bicara soal kelebihan, sistem non-tunai memang punya banyak keuntungan. Pertama, jelas lebih praktis. Kita tidak perlu repot membawa uang tunai atau mencari kembalian. Semua transaksi bisa dilakukan dalam hitungan detik.
Kedua, lebih aman dan higienis. Risiko kehilangan uang tunai bisa diminimalisir, dan di era pasca pandemi, transaksi tanpa sentuhan jadi pilihan banyak orang.
Ketiga, cashless memudahkan pencatatan keuangan. Riwayat transaksi bisa langsung dilihat di aplikasi, sehingga sebenarnya sangat membantu kalau ingin mengatur pengeluaran secara detail.
Belum lagi berbagai promo, cashback, dan diskon yang sering ditawarkan. Inilah yang membuat banyak orang merasa diuntungkan dan makin nyaman menggunakan pembayaran digital.
Sisi Gelap: Kenapa Cashless Bisa Bikin Boros?
Tapi di balik semua kemudahan itu, ada jebakan yang sering tidak disadari. Saat kita membayar pakai uang fisik, ada rasa “kehilangan” yang terasa nyata. Berbeda dengan transaksi digital yang hanya butuh satu klik.
Karena tidak melihat uang berpindah tangan secara langsung, banyak orang jadi lebih impulsif. “Ah, cuma sepuluh ribu.” “Bayar nanti aja pakai pay later.” Kalimat seperti ini sering muncul tanpa disadari.
Ditambah lagi, fitur pay later bisa membuat orang merasa punya uang lebih, padahal sebenarnya sedang berutang. Kalau tidak dikontrol, kebiasaan ini bisa menumpuk tagihan dan berujung stres di akhir bulan.
Fenomena ini cukup terasa di kalangan anak muda, terutama yang aktif di media sosial. FOMO, tren belanja, dan gaya hidup estetik sering kali mendorong pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Jadi, Cashless Itu Baik atau Buruk?
Jawabannya: tergantung cara kita menggunakannya.
Cashless bukan musuh, tapi alat. Kalau digunakan dengan sadar dan terkontrol, justru bisa sangat membantu kehidupan sehari-hari. Namun, jika digunakan tanpa perencanaan, cashless bisa menjadi pintu masuk perilaku konsumtif.
Beberapa cara agar tetap aman di era cashless:
- Tentukan batas pengeluaran bulanan
- Aktifkan notifikasi transaksi
- Gunakan pay later dengan bijak
- Bedakan kebutuhan dan keinginan
- Jangan tergoda promo kalau tidak perlu
Cashless society adalah bagian dari perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Mau jadi alat yang memudahkan hidup, atau justru jadi jebakan yang bikin dompet menipis semua kembali ke kontrol diri masing-masing.
https://disapedia.com/cashless-society-transaksi-non-tunai-bikin-boros/
Src. from disapedia.com, ocbc.id
Mungkin kamu suka
Yang mungkin kamu [juga] suka
Warungkustik
shorts
Berita Musik terbaru
© 2019 radioguntur.com

