Dampak dari Perang Israel dan Iran bagi ekonomi keuangan Indonesia
Salam, komentar, request..
Dampak dari Perang Israel dan Iran bagi ekonomi keuangan Indonesia
Article on radioguntur.com a Radio Online Bali and one fine Radio Online Indonesia.
Konflik Israel dan Iran tidak hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan global.
Hubungan antara Iran dan Israel mengalami peningkatan ketegangan yang kini memasuki fase baru yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Ketegangan tersebut mencapai puncaknya pada tanggal 13 Juni 2025, ketika Israel secara tiba-tiba melancarkan serangan militer terhadap sejumlah infrastruktur strategis dan fasilitas penting yang berada di wilayah Iran. Serangan ini menandai eskalasi konflik yang lebih serius dan berpotensi memicu dampak lebih luas di kawasan Timur Tengah maupun pada stabilitas global.
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada, Muhadi Sugiono menilai bahwa konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan global.
Dinamika yang terjadi, kata dia, mencerminkan betapa rentannya sistem internasional ketika berhadapan dengan konflik berkepanjangan yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia.
1. Apa dampak perang Iran-Israel terhadap harga minyak dunia?
Harga minyak dunia melesat naik dalam beberapa hari terakhir pascaeskalasi konflik antara Iran dan Israel. Konflik tersebut diharapkan tidak berlangsung panjang dan membawa dampak seburuk perang Rusia dan Ukraina pada 2022. Meski demikian, jika eskalasi tensi kedua negara itu terus berlanjut, harga minyak dunia kemungkinan bisa kembali ke level 100 dollar AS per barel. Lonjakan harga minyak dunia itu dapat berdampak negatif pada neraca perdagangan Indonesia.
Mengutip laman Trading Economics, harga minyak dunia pada Senin (16/6/2025) hampir menyentuh harga 75 dollar AS per barel, tertinggi dalam enam bulan terakhir. Harga ini telah mengalami kenaikan sekitar 7 persen pada penutupan perdagangan Jumat (13/6/2026).
Momen ini terjadi setelah Israel meluncurkan serangan masif di lapangan gas di Semenanjung Persia, yang membuat platform produksi gas ditutup. Itu merupakan serangan susulan setelah Israel menyerang fasilitas nuklir Iran dan pangkalan militer Iran pekan lalu. Pengamat komoditas, Lukman Leong, saat dihubungi Kompas, Senin, menganalisis, harga minyak memang terdampak oleh eskalasi di Timur Tengah. Terlebih, Iran merupakan salah satu produsen besar minyak dunia dengan produksi sekitar 3,3 juta barel per hari.
Meski demikian, ia memperkirakan konflik itu tidak akan membawa harga minyak dunia hingga ke atas 80 dollar AS per barel. Tren kenaikan harga itu diyakini tidak akan bertahan lama.
”Saya perkirakan OPEC+ (aliansi negara produsen minyak) akan bisa segera menawarkan kenaikan produksi ke negara-negara produsen. Dari sisi logistik, Iran sendiri masih dalam negosiasi dengan Amerika Serikat dan diperkirakan tidak akan gegabah menutup Selat Hormuz, yang bisa membawa mereka dalam posisi diplomasi yang lebih buruk,” katanya.
2. Bagaimana dengan APBN?
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengakui gejolak harga minyak global masih akan berlangsung sejalan dengan eskalasi geopolitik yang sedang terjadi. Dampak terhadap kenaikan anggaran belanja subsidi dan kompensasi energi nantinya tidak semata terjadi karena kenaikan harga minyak, tetapi juga pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
”Ini akan terus kita update, akan kita laporkan di lapsem (laporan sementara APBN semester I-2025) ke DPR untuk realisasi hingga pertengahan tahun dan juga outlook hingga akhir tahun,” ujarnya.
Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro 2025, patokan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) adalah 82 dollar AS per barel. Apabila dibandingkan dengan ICP Mei 2025, rata-rata harga minyak mentah Indonesia adalah 65,29 dollar AS per barel.
Saat ini, lonjakan harga minyak dunia berkisar 72–74 dollar AS per barel, lebih rendah daripada asumsi ICP yang termaktub dalam APBN 2025 senilai 82 dollar AS per barel. ”Konflik Iran-Israel pasti berpengaruh ke APBN, tetapi masih di dalam track record yang ditetapkan,” kata Febrio. Baca juga Sri Mulyani: Konflik Iran-Israel Picu Risiko Ekonomi bagi Indonesia
3. Bagaimana transmisinya di sektor keuangan?
Konflik geopolitik yang kembali memanas pascaserangan Israel ke Iran berisiko menimbulkan gejolak di sektor keuangan, terutama di pasar uang dan pasar saham. Eskalasi tensi geopolitik itu juga dapat memicu keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan domestik.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty mengingatkan, perang yang terjadi antara Israel dan Iran akan berdampak terhadap sektor keuangan. Ini mulai tampak dari kenaikan indeks volatilitas (VIX) yang mencerminkan kekhawatiran akan risiko global.
”Sudah ada sedikit kenaikan dari volatility index, tetapi masih terjaga. Nanti, kalau misalkan volatility index ini meningkat, mulai ada kekhawatiran kalau global risk channel (saluran penyebaran risiko global) akan semakin tertransmisikan ke sektor keuangan,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (17/6/2025).
Dalam beberapa bulan terakhir, indeks volatilitas cenderung berada dalam kisaran level 18. Pergerakannya mulai memuncak ke level 22 setelah Israel menyerang Iran pada Jumat (13/6/2025) dan kini kembali melandai ke kisaran level 19. Menurut Telisa, rambatan gejolak geopolitik global tersebut paling cepat akan terasa di sektor keuangan domestik, terutama nilai tukar rupiah dan pasar saham.
Kondisi tersebut juga berisiko meningkatkan defisit fiskal di APBN akibat kenaikan harga minyak dunia. Pada penutupan pasar Selasa (17/6/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ke level 7.155,85 atau menguat 0,54 persen dibanding penutupan hari sebelumnya. Namun, IHSG melemah tipis 0,26 persen jika dibandingkan dengan penutupan pasar pada Jumat pekan lalu.
4. Jalur perdagangan mana saja yang rawan?
Selat Hormuz, Laut Hitam, Laut Merah, dan Terusan Panama tengah. Ini adalah empat jalur perdagangan maritim dunia yang beakangan kian rentan terhadap konflik geopolitik. Rantai pasok berbagai komoditas dunia terancam.
Baru-baru ini, kabar kurang sedap mendera Selat Hormuz. Pada 14 Juni 2025 atau sehari setelah Israel menyerang Teheran, Iran mengancam melumpuhkan jalur perdagangan maritim di selat selebar 54 kilometer tersebut.Iran percaya diri mampu melumpuhkan sistem navigasi pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Selat Hormuz menggunakan pesawat nirawak.
Iran bahkan bisa menyerang pelabuhan, tanker dan komersial, serta jaringan infrastruktur minyak dan gas di kawasan selat itu menggunakan rudal.
Selat Hormuz merupakan pintu gerbang Teluk Persia. Selat itu merupakan jalur utama ”raja-raja” minyak dan gas (migas) dunia, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Qatar, Irak, dan Kuwait, dalam perdagangan migas.
Src. from hukumonline, kompas.id.
Mungkin kamu suka
Yang mungkin kamu [juga] suka
Warungkustik
shorts
Berita Musik terbaru
© 2019 radioguntur.com
