Digital Health (Kesehatan di Era Teknologi)
Salam, komentar, request..
Digital Health (Kesehatan di Era Teknologi)
Article on radioguntur.com a Radio Online Bali and one fine Radio Online Indonesia.
DAMPAK DIGITAL PADA KESEHATAN :
1. Mata Pegal dan Kering
Menggunakan gadget selama berjam-jam dapat mengaburkan pandangan dan membuat mata jadi kering. Tak hanya pada mata, kamu juga bisa merasakan nyeri pada area tubuh lain, seperti kepala, leher dan atau bahu. Agar hal ini tidak terjadi, terapkan 20-20-20.Setiap 20 menit melihat layar gadget, gunakan 20 detik untuk melihat hal lain, sejauh 20 kaki (setara dengan 6 meter).
2. Postur Tubuh yang Buruk
Cara berbagai orang menggunakan gadget dan komputer dapat berkontribusi terhadap postur yang salah. Melihat ke bawah dan membungkuk akan memberi tekanan berlebih pada leher dan tulang punggung. Berjalanlah setelah sejam bekerja apabila memungkinkan agar menghindari perubahan postur.
3. Gangguan Tidur
Penggunaan teknologi yang terlalu dekat dengan waktu tidur dapat menyebabkan kesulitan tidur. Penyebabnya adalah blue light dari gadget yang terus menstimulasi otak.
Blue light dapat mengganggu ritme sirkadian atau irama tubuh, sehingga menyulitkan seseorang untuk tidur. Kamu pun bisa merasa lebih lesu di hari berikutnya.
Hindari menggunakan gadget 1-2 jam sebelum tidur untuk menghindari dampak negatif teknologi bagi kesehatan. Gantilah dengan aktivitas lain, seperti peregangan, membaca buku, atau mandi air hangat.
4. Membuat Jarang Bergerak
Penggunaan teknologi berlebih memicu terjadinya berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, penyakit jantung, dan kematian dini. Kok bisa? Itu karena teknologi membuat tubuh kamu jadi mager alias malas gerak.
Oleh sebab itu, lebih baik manfaatkan teknologi yang mendorong produktivitas olahraga. Cara ini mampu menurunkan perilaku sedenter yang bisa memicu penyakit. bandingkan yang tidak menggunakan media sosial sesering mereka.
Cara Digital Health (Kesehatan di Era Teknologi)
1. Telemedicine (Layanan Kesehatan Jarak Jauh)
Telemedicine memungkinkan pasien untuk berkonsultasi dengan tenaga medis tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan secara fisik. Melalui media seperti video call, aplikasi chatting, atau panggilan suara, pasien dapat mengungkapkan keluhan dan menerima diagnosis awal. Hal ini sangat membantu masyarakat yang tinggal di daerah terpencil atau memiliki keterbatasan mobilitas.
Layanan ini juga mempercepat akses terhadap pertolongan medis, terutama dalam situasi darurat atau ketika rumah sakit penuh. Pasien yang hanya memerlukan pemeriksaan ringan, kontrol rutin, atau diskusi hasil laboratorium bisa menggunakan telemedicine tanpa antre panjang. Ini mengurangi beban fasilitas kesehatan sekaligus mempercepat pelayanan.
Namun, telemedicine masih memiliki keterbatasan, seperti ketidakmampuan untuk melakukan pemeriksaan fisik langsung atau prosedur medis tertentu. Maka dari itu, sistem ini bukan pengganti rumah sakit, melainkan pelengkap yang mempermudah proses perawatan kesehatan sehari-hari.
2. Aplikasi Kesehatan Mobile (mHealth)
mHealth merujuk pada berbagai aplikasi mobile yang dirancang untuk mendukung kesehatan pribadi. Aplikasi ini beragam, mulai dari yang membantu mengatur pola makan, jadwal olahraga, memantau gula darah, hingga mengelola penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes. Dengan fitur notifikasi, aplikasi ini juga bisa mengingatkan pasien untuk minum obat tepat waktu.
Masyarakat kini lebih mudah memantau kondisi kesehatannya sendiri karena hampir semua orang memiliki smartphone. Aplikasi semacam ini menjadi alat bantu mandiri bagi pasien dalam mengontrol kebiasaan sehat dan gaya hidup. Penggunaan aplikasi juga dapat didukung oleh data yang real-time dan interaktif, sehingga memotivasi pengguna lebih disiplin.
Selain untuk individu, mHealth juga dimanfaatkan oleh profesional kesehatan untuk berkomunikasi dengan pasien, mengakses catatan medis, atau mengatur jadwal pemeriksaan. Peran aplikasi ini menjadi jembatan antara edukasi kesehatan dan perubahan perilaku positif masyarakat.
3. Wearable Devices (Perangkat yang Dikenakan)
Wearable devices seperti smartwatch, fitness tracker, dan sensor medis kini semakin canggih dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Alat ini dapat memantau detak jantung, jumlah langkah harian, kualitas tidur, kadar oksigen, bahkan tingkat stres secara otomatis. Hasil pemantauan ini bisa langsung dilihat melalui aplikasi yang terhubung dengan perangkat.
Kelebihan dari perangkat ini adalah monitoring kesehatan secara real-time dan konsisten, tanpa memerlukan kunjungan ke fasilitas medis. Beberapa alat bahkan bisa mengirimkan peringatan dini jika terdeteksi tanda-tanda gangguan seperti aritmia atau sleep apnea. Dengan data yang terus dikumpulkan, pasien dan dokter bisa mendapatkan gambaran lengkap mengenai kondisi kesehatan dari waktu ke waktu.
Wearable devices tidak hanya dipakai oleh individu sehat, tetapi juga oleh pasien dengan kondisi kronis yang memerlukan pemantauan berkelanjutan. Dalam jangka panjang, alat ini bisa membantu mencegah komplikasi penyakit dengan memberi intervensi lebih cepat berdasarkan data yang dikumpulkan.
4. Electronic Health Records (EHR)
Electronic Health Records (EHR) adalah sistem digital yang menyimpan data kesehatan pasien secara terpusat dan terintegrasi. EHR mencakup informasi lengkap seperti riwayat penyakit, hasil laboratorium, diagnosis, resep obat, dan tindakan medis. Dengan EHR, dokter dapat mengakses informasi pasien dengan mudah, cepat, dan akurat.
Keunggulan utama dari EHR adalah efisiensi dan pengurangan kesalahan medis. Misalnya, jika seorang pasien berpindah rumah sakit, dokter baru bisa langsung melihat riwayat medisnya tanpa perlu pemeriksaan ulang atau wawancara mendalam. Hal ini mempercepat proses diagnosa dan menghindari pemberian obat yang berpotensi konflik dengan riwayat pasien.
Selain itu, EHR membantu rumah sakit dalam menyimpan data pasien dalam jumlah besar secara aman. Data ini juga bisa dianalisis untuk penelitian atau perencanaan kebijakan kesehatan. Penggunaan EHR juga mendukung program digitalisasi sistem kesehatan nasional yang lebih modern dan efektif.
5. Artificial Intelligence (AI) dalam Diagnosa
AI (kecerdasan buatan) dalam bidang kesehatan digunakan untuk membantu proses diagnosis, analisis gambar medis (seperti CT scan, MRI, dan rontgen), serta prediksi penyakit. Sistem AI bisa dilatih menggunakan jutaan data kasus untuk mengenali pola penyakit lebih cepat dan akurat dibanding pemeriksaan manual. Hal ini sangat berguna dalam mendeteksi kanker, kelainan jantung, atau penyakit langka.
AI juga dapat membantu dokter dalam membuat keputusan medis berbasis data dan probabilitas. Dengan adanya sistem pendukung keputusan klinis (clinical decision support system), dokter bisa mendapatkan rekomendasi diagnosa dan pengobatan yang lebih personal dan tepat sasaran. AI bekerja sebagai asisten, bukan pengganti dokter, dengan mempercepat proses tanpa mengabaikan kualitas.
Kelebihan AI lainnya adalah skalabilitas dan efisiensi. Di masa depan, teknologi ini dapat memperluas akses terhadap layanan medis berkualitas, bahkan di wilayah yang kekurangan spesialis. Meski demikian, penggunaan AI tetap harus diawasi dan divalidasi agar tidak menimbulkan bias atau kesalahan yang merugikan pasien.
Penampakan Ribuan Drone Misterius di Langit New Jersey

Src. from kumparan.com, klikdokter.com
Mungkin kamu suka
Yang mungkin kamu [juga] suka
Warungkustik
shorts
Berita Musik terbaru
© 2019 radioguntur.com
