Hipogami Phenomenon
Salam, komentar, request..
Hipogami Phenomenon
Article on radioguntur.com a Radio Online Bali and one fine Radio Online Indonesia.
Apa itu hipogami?
Hipogami adalah suatu kondisi saat seseorang, khususnya perempuan, menikah atau menjalin hubungan romantis dengan individu yang memiliki status sosial, ekonomi, atau pendidikan yang lebih rendah ketimbang dirinya.
Kebalikannya, hipergami—perempuan mencari pasangan yang statusnya lebih tinggi—lebih lazim dan diterima secara sosial.
Ini sejalan dengan norma tradisional yang mendorong perempuan untuk mencari pasangan yang memiliki kondisi finansial lebih mapan, lebih tua, atau tingkat pendidikannya lebih tinggi.
beberapa faktor utama yang mendorong meningkatnya fenomena hipogami antara lain:
1. Peningkatan pendidikan dan kemandirian finansial perempuan
Banyak perempuan kini memiliki tingkat pendidikan, dan kemandirian finansial yang lebih tinggi dibanding dekade sebelumnya. Hal ini membuat mereka tidak lagi bergantung pada pasangan dalam hal ekonomi, dan memberikan kebebasan untuk menentukan pilihan berdasarkan kualitas hubungan secara emosional, dan nilai-nilai bersama.
Perempuan yang mapan secara finansial lebih berani mengambil keputusan tanpa tekanan konvensi sosial, karena mereka merasa cukup mandiri untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang setara bahkan ketika pasangannya berpenghasilan lebih rendah.
2. Perubahan norma sosial
Seiring berkembangnya nilai-nilai kesetaraan gender, norma tradisional yang menempatkan pria sebagai pencari nafkah utama mulai mengalami pergeseran. Kini semakin banyak masyarakat yang menerima perempuan sebagai kepala rumah tangga atau pencari nafkah utama.
3. Paparan nilai egaliter dalam media dan budaya populer
Representasi hubungan yang egaliter semakin banyak muncul dalam film, serial, dan buku-buku populer. Narasi perempuan sukses yang menjalin hubungan dengan pria dari latar belakang biasa atau non-elit tak lagi dianggap tabu.
Tokoh-tokoh publik pun ikut serta memperkuat gambaran bahwa hubungan yang bahagia tidak harus didasarkan pada pencapaian materi semata, melainkan pada rasa saling melengkapi dan tumbuh bersama.
Meskipun hipogami mencerminkan kemajuan dalam kesetaraan gender, hubungan semacam ini tetap menghadapi sejumlah tantangan yang signifikan.
Pertama adalah persepsi sosial. Dalam banyak budaya, termasuk Indonesia, relasi di mana perempuan memiliki status sosial atau ekonomi yang lebih tinggi dari pasangannya masih dianggap menyimpang dari norma.
Perempuan bisa mengalami tekanan dari keluarga atau masyarakat yang menganggap bahwa keberhasilan perempuan seharusnya diimbangi dengan pasangan yang lebih "tinggi" atau setidaknya sepadan. Tekanan ini sering kali muncul dalam bentuk komentar merendahkan, rasa malu yang dipaksakan, atau pertanyaan bernada meragukan tentang pilihan pasangan.
Kedua, dinamika kekuasaan dalam relasi hipogami bisa menjadi kompleks. Perbedaan status bisa memunculkan ketegangan tersembunyi, seperti rasa rendah diri pada pasangan laki-laki atau beban emosional pada perempuan yang harus terus membuktikan bahwa hubungannya berfungsi.
Src. from parapuan.co, bbc.com
Mungkin kamu suka
Yang mungkin kamu [juga] suka
Warungkustik
shorts
Berita Musik terbaru
© 2019 radioguntur.com

