Percaya Takdir atau Kita yang Menciptakan Takdir Itu?
Salam, komentar, request..
Percaya Takdir atau Kita yang Menciptakan Takdir Itu?
Article on radioguntur.com a Radio Online Bali and one fine Radio Online Indonesia.
Takdir sering kali terasa seperti sesuatu yang jauh, abstrak, dan sulit ditebak. Banyak orang mengira takdir itu sudah ditetapkan sepenuhnya dan kita tinggal menjalaninya, padahal kenyataannya nggak sesederhana itu. Dalam hidup, ada bagian-bagian yang memang berada di luar kendali kita—seperti siapa yang datang, siapa yang pergi, kapan kesempatan muncul, atau kapan hidup berubah secara tiba-tiba. Tapi di sisi lain, ada juga ruang yang cukup besar untuk kita tentukan sendiri lewat pilihan, usaha, dan keberanian mengambil langkah. Kombinasi antara hal yang bisa kita kendalikan dan hal yang tidak bisa kita ubah itulah yang akhirnya membentuk jalan hidup kita.
Yang bikin takdir menarik adalah cara ia bekerja: pelan, diam-diam, tapi sering muncul di momen yang paling nggak terduga. Kamu bisa berusaha sekeras mungkin, merencanakan semuanya dengan rapi, tapi hidup tetap punya caranya sendiri untuk membawa kamu ke arah yang mungkin nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Kadang itu baik, kadang itu bikin hati patah, tapi sering kali justru lewat perubahan-perubahan itulah kamu belajar tentang siapa dirimu sebenarnya. Takdir nggak selalu datang dalam bentuk kejadian besar; kadang ia tersembunyi dalam keputusan kecil yang kamu ambil hari ini.
Di sisi lain, takdir bukan alasan untuk pasrah atau berhenti berusaha. Justru karena kita nggak tahu apa yang menunggu di depan, kita diberi ruang untuk menentukan langkah kita sendiri. Kita bisa memilih apa yang mau diperjuangkan, siapa yang mau dipertahankan, dan hal-hal apa saja yang perlu dilepaskan. Kita bisa mengatur sikap, memperbaiki diri, dan memutuskan jalan mana yang ingin diikuti. Tapi hasil akhirnya tetap punya faktor luar yang kadang di luar hitungan. Di titik inilah kita belajar tentang keseimbangan: bekerja keras tanpa merasa harus mengontrol segalanya.
Takdir juga sering terasa kejam ketika sesuatu yang kita inginkan tidak berjalan sesuai rencana. Seolah-olah hidup sengaja menjauhkan kita dari hal yang kita anggap paling tepat. Tapi seiring waktu, kamu akan sadar bahwa beberapa hal memang bukan untuk dimiliki, meskipun kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Ada hubungan yang berhenti di tengah jalan, ada mimpi yang berubah arah, ada orang yang datang hanya untuk memberi pelajaran. Semua itu bagian dari perjalanan yang pada akhirnya membuat kamu lebih kuat, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi apa pun yang datang setelahnya.
Pada akhirnya, memahami takdir adalah soal belajar menerima bahwa hidup bukan hanya tentang “apa yang kita mau”, tapi juga tentang “apa yang memang tepat untuk kita”. Kita tetap boleh bermimpi, tetap boleh berjuang, tapi juga harus siap ketika realita mengarahkan kita ke jalan yang berbeda. Takdir bukan tentang menyerah, tapi tentang percaya bahwa setiap langkah—baik yang kita pilih sendiri maupun yang tiba-tiba muncul—punya tujuan yang mempertemukan kita dengan versi terbaik dari diri kita di masa depan. Dan selama kamu melakukan bagianmu, sisanya biarlah hidup yang menyempurnakan.
Src. from Kumparan.com
Mungkin kamu suka
Yang mungkin kamu [juga] suka
Warungkustik
shorts
Berita Musik terbaru
© 2019 radioguntur.com

