Get to know about Hiperakusis
Salam, komentar, request..
Get to know about Hiperakusis
Article on radioguntur.com a Radio Online Bali and one fine Radio Online Indonesia.
Apa itu Hiperakusis?
Anda mungkin juga mendengarnya disebut sensitivitas suara atau kebisingan. Jika Anda mengalaminya, suara-suara tertentu mungkin terasa sangat keras meskipun orang-orang di sekitar Anda tampaknya tidak menyadarinya.
Hiperakusis jarang terjadi. Kondisi ini memengaruhi 1 dari 50.000 orang. Kebanyakan orang yang mengalaminya juga memiliki kondisi lain yang disebut tinitus , yaitu telinga berdenging atau berdenging .
Hiperakusis adalah gangguan pendengaran. Namun, banyak orang yang mengalaminya juga memiliki pendengaran normal.
Hiperakusis dapat terjadi kapan saja dan dapat menyerang orang dewasa maupun anak-anak. Berikut ini adalah penyebab dari hiperakusis:
1. Terpapar suara keras
Hiperakusis dapat muncul ketika seseorang sering mendengar suara yang keras. Risiko ini lebih rentan dialami oleh orang-orang yang bekerja di lingkungan bising, seperti musisi, pekerja konstruksi, atau petugas bandara. Paparan suara keras secara terus-menerus dapat merusak sel dan sistem saraf yang bertanggung jawab dalam proses mendengar.
Selain itu, mendengar suara yang sangat keras atau lebih dari 140 dB juga dapat menyebabkan hiperakusis. Contohnya, mendengar suara ledakan petasan atau klakson kereta dari jarak yang terlalu dekat.
2. Kelainan pada telinga
Perkembangan yang tidak normal pada bagian-bagian telinga, seperti saluran telinga, membran timpani, tulang sanggurdi (stapes), dan rumah siput, dapat menyebabkan hiperakusis.
Kondisi tersebut bisa menyebabkan saraf pendengaran mengirimkan informasi suara yang salah ke otak. Akibatnya, otak mengolah suara yang masuk sebagai suara yang keras dari sebenarnya.
3. Kelumpuhan saraf wajah
Pada beberapa kasus, kelumpuhan atau gangguan pada saraf wajah, seperti Bell's palsy, cacar api, atau penyakit Lyme, dapat menyebabkan hiperakusis. Gangguan ini dapat mempengaruhi saraf wajah yang mengontrol otot stapedius, yaitu otot yang berperan dalam mengatur intensitas suara dan melindungi telinga dari suara keras.
Adanya gangguan pada otot stapedius membuat indra pendengaran kehilangan kemampuan untuk mengatur kekerasan suara, yang dapat berkembang menjadi hiperakusis.
4. Cedera
Penyebab lain dari kondisi ini adalah cedera pada kepala, rahang, atau telinga yang disebabkan oleh benturan keras. Benturan tersebut dapat mengganggu bagian saraf sensorik yang berhubungan dengan pendengaran di otak, yang kemudian dapat memicu berkembangnya hiperakusis.
Penanganan Hiperakusis
Hiperakusis bisa menghambat aktivitas sehari-hari karena setiap suara akan sangat mengganggu. Kondisi ini juga dapat menyebabkan pusing, gangguan keseimbangan tubuh, telinga berdenging, perasaan penuh di telinga, bahkan kejang.
Jika tidak ditangani, hiperakusis bisa membuat penderitanya stres dan menarik diri dari lingkungan sosial, sehingga memicu rusaknya hubungan dengan orang lain. Selain itu, pengobatan yang tidak tepat juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kecemasan dan depresi.
Src. from alodokter.com , webmd.com
Mungkin kamu suka
Yang mungkin kamu [juga] suka
Warungkustik
shorts
Berita Musik terbaru
© 2019 radioguntur.com
