Fakta Sejarah dibalik Emoji yang Berwarna Kuning
Salam, komentar, request..
Fakta Sejarah dibalik Emoji yang Berwarna Kuning
Article on radioguntur.com a Radio Online Bali and one fine Radio Online Indonesia.
Emoji jadi salah satu simbol dari perwakilan persasaan kita disaat berkirim pesan via Sosial Media. Kita terkadang menggunakan emoji supaya pembicaraan tidak terkesan kaku. Faktanya Kata emoji diambil dari bahasa Jepang loh, yaitu 'e' yang berarti gambar dan 'moji' yang artinya karakter. Lantas, mengapa emoji (terutama yang ekspresi wajah) berwarna kuning? Ternyata ada fakta loh dibalik Emoji yang sering kita gunakan. Seperti beberapa fakta berikut.
-
Emoji ditambahkan ke standar Unicode. Jadi pada tahun 2010 Emoji baru saja ditambahkan ke Unicode, atau perusahaan yang bertujuan untuk mengembangkan dan mengelola standar unicode pada emoji. Awalnya, emoji dari kategori Smiley & Emotion memiliki kulit kuning dan emoji dari People & Body berkulit putih. Kala itu, kita belum bisa mengubah warna kulitnya. Di bawah pengelolaan Unicode Consortium, lembaga itu memutuskan bentuk dasar dan deskripsi setiap emoji serta memberikan prototipe berwarna hitam putih. Warna dan detailnya diserahkan ke masing-masing vendor untuk didesain sendiri.
-
Emoji Hadir dalam skin tone. emoji di tahun 2015 di serang berbagai kritikan seperti kurangnya keberagaman, ekspresi, rasisme, dan lainnya. Bahkan, ada beberapa pihak yang meluncurkan petisi "Diversify My Emoji" dan mendesak Apple untuk mengubah warna kulit emoji. Sampai Unicode 8.0 di tahun 2015, Unicode Consortium merilis lima skin tone modifier berdasarkan Fitzpatrick scale. Tujuannya untuk merepresentasikan people of color. Akhirnya, diberikan lah pilihan untuk memodifikasi warna kulit karakter!
-
Warna default emoji yang tetap kuning. Walau pilihan skin tone sudah lebih bervariasi, kuning tetap dijadikan sebagai warna defaultnya. Perlu diluruskan bahwa ini tidak ada hubungannya dengan warna kulit orang Asia, bahkan sebenarnya tidak terlihat seperti warna kulit manusia normal. Ternyata, warna itu merujuk ke smiley, emoji pertama yang klasik dan legendaris. Wajah tersenyum ini populer di era 1960-an hingga 1970-an dan sering dijadikan stiker untuk ditempel di bagian belakang mobil.
-
Fakta Smiley face diciptakan. Wajah tersenyum yang ikonik ini lahir di Amerika Serikat pada tahun 1963. Awalnya, sebuah perusahaan asuransi menyewa desainer grafis Harvey Ross Ball untuk merancang ikon untuk menenangkan kecemasan karyawan mereka. Smiley face itu menjadi sangat populer, bahkan menjadi salah satu representatif budaya hippie. Selain itu juga muncul dalam komik, album musik, pakaian, serta menjadi simbol Hari Senyum Sedunia. Tetapi, ada kisah sedih di baliknya. Karena Harvey tidak pernah mengajukan merek dagang (trademark) untuk smiley face, ia tidak mendapatkan royalti dan hanya memperoleh upah 45 dolar AS.
-
Alasan memilih Warna kuning pada emoji. Dari perspektif psikologi warna, kuning merupakan warna yang sangat positif, cerah, dan bisa membuat orang merasa bahagia. Keunggulan lainnya adalah warna kuning mampu menampilkan detail emoji dengan baik. Sedangkan warna merah dan biru mudah membuat orang merasa pusing. Detail emoji juga tidak bisa ditampilkan dengan baik. Selain itu, kuning bisa membuat orang merasa hangat dan penuh harapan. Mengutip Emoji All, ini merupakan efek emosional yang positif yang ingin disebarkan ke orang-orang. It brightens our day!
-
Tidak hanya warna untuk emoji. Warna kuning memiliki kesan kreatif, sangat eye-catching, dan dikaitkan dengan optimisme. Itulah mengapa warna ini banyak dipakai untuk karakter animasi. Misalnya "Minions" dari Despicable Me, karakter dalam sitkom The Simpsons, "Emmet" atau "Lucy" dalam The Lego Movie. Matt Groening, pencipta The Simpsons menjelaskan mengapa ia memilih warna kuning. Dalam Republic World, Matt menuturkan bahwa ia ingin kartunnya menarik perhatian sehingga dipilihlah warna kuning sebagai warna dari kartunnya tersebut.
Src. from idntimes.com
Mungkin kamu suka
Yang mungkin kamu [juga] suka
Warungkustik
shorts
Berita Musik terbaru
© 2019 radioguntur.com

